Pada Suatu Malam

on Thursday, April 29, 2010
Kedua tangan itu saling berpegangan dan menggenggam mesra. Mata mereka saling beradu pandang. Tersenyum. Sesekali mata mereka menjelajahi interior ruangan restoran yang dibalut dengan furniture kayu bernuansa etnik. Sembari bercakap-cakap perlahan.
Bukan. Mereka bukanlah sepasang muda-mudi mabuk asmara yang sedang berkencan. Sepasang tangan itu sudah renta. Keriput di kulit mereka cukup untuk menunjukkan bahwa pasangan suami istri ini sudah lanjut usianya. Sang suami perawakannya lebih kurus daripada sang istri. Aku menebak-nebak, mungkin usia mereka sekitar 50-an.
Istrinya sesekali menoleh ke arah seorang gadis kecil yang duduk di sampingnya. Gadis kecil ini parasnya cantik, rambutnya panjang sebahu. Mungkin ini anaknya, karena wajahnya mirip. Tubuhnya meliuk ke kanan ke kiri. Dia memutar-mutar bola matanya. Tertawa. Mereka saling bercanda. Melengkapi kehangatan keluarga ini.
Sebenarnya aku sangat ingin mendengar hal-hal apa saja yang mereka bicarakan. Tetapi suara obrolan dan tawa keras dari tiga pemuda di meja seberang membuat aku tidak bisa mendengar percakapan keluarga ini dengan jelas.
Rupanya menu pesanan sudah datang di meja mereka. Porsi yang mereka pesan sebenarnya adalah porsi untuk satu orang. Tetapi mereka memesan satu porsi untuk bertiga. Mereka tampak sangat menikmati hidangan mereka. Hmm ... sebuah kesederhanaan dan keromantisan bertemu, menyentuh sekali.
Aku sangat suka sekali menyaksikan pemandangan keluarga-keluarga yang sedang makan bersama. Entah di sebuah rumah ataupun di restoran. Bagaimana mereka makan, bagaimana mereka bercakap-cakap, atau bahkan ada juga yang gak saling ngobrol satu sama lain. Menarik sekali, bagaimana kita bisa mengetahui dalamnya hubungan sebuah keluarga di atas sebuah meja makan.
Eh, tapi ka .... darimana kamu bisa tahu klo mereka itu sepasang suami istri dan seorang anak?! bisa jadi kan klo mereka itu kakek nenek dan cucunya .... atau si anak itu anak dari sodaranya ... atau mereka adalah sepasang pengasuhnya?!
Aku gak tahu. Aku cuma menebak-nebak saja. Lagipula gak sedikit juga kok pasangan suami istri yang baru menikah di usia separuh baya, sehingga ketika anak mereka beranjak remaja, sang orangtua sudah keliatan tua sekali.
Entahlah. Entah tebakanku ini benar atau tidak, aku tidak tahu. Kalaupun tebakanku salah, aku juga tidak akan pernah merasa tertuduh. Karena aku suka pemandangan seperti itu.
Sebuah kesederhanaan dan keromantisan bertemu di atas meja makan.

Selasa, 27 April 2010 - 19.35

Aku Ingin

on Friday, April 16, 2010
Beberapa waktu lalu, pada saat saya sedang blogwalking, saya nemu sebuah puisi yang dituliskan dalam sebuah blog di sini. Sebuah puisi karya Sapardi Djoko Damono berjudul "Aku Ingin"

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada

Puisi ini dibuat pada tahun 1989 dan dimuat dalam buku kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul "Hujan Bulan Juni". Puisi ini memang pendek, tapi maknanya sangat dalam.
Kalau buat saya, puisi ini kenangan banget, pas saya masih sekolah dulu *uhukkk ... *
Saya lupa klo gak salah saya pernah denger puisi ini dari sebuah film, film apa ya judulnya ...?!
Ada yang bisa bantu saya mengingatnya ... ??

Saya Kangen Lari Pagi

on Friday, April 09, 2010
Udah lama banget saya gak lari. Saya ingat dulu pas masih di Semarang, saya suka banget lari pagi. Saya ingat di dekat rumah saya itu terbentang sawah dan banyak pepohonan. Jadi kebayang kan segarnya udara pagi dan basahnya embun di saat itu?
Cuma setelah saya bekerja di ibukota, saya hampir gak pernah lagi lari pagi. Sampai beberapa hari yang lalu saya mulai putuskan untuk kembali lari pagi. Saya paksakan diri saya buat bangun jam 5 pagi. Kangen. Saya kangen lari-lari di saat matahari belum terbit. Saya kangen udara segar dan embun pagi. Saya kangen hawa dingin yang menusuk tubuh di kala lari. Dan pagi itu saya kembali berlari. Walaupun cuma beberapa menit trus berhenti ngos-ngosan. Hehe.
Tadi pagi saya baru saja menyelesaikan beberapa putaran *tepatnya beberapa langkah* lari ngelilingin stadion Gelora Bung Karno bareng temen-temen kantor. Yup, kantor saya ada acara jogging pagi dan rencananya tiap beberapa minggu sekali. -Bagus deh, biar kita ada gerak dikit neh badan. Klo kelamaan di depan komputer melulu bahaya juga-
Enaknya klo pas hari kerja gini, Senayan lebih sepi dibanding pas weekend. Pernah saya lari pas weekend, ramenya minta ampun. Itu kayaknya se-Jakarta pada olahraga di Senayan semua. Dari yang jogging, sepeda-an, taichi, senam pagi, skateboarding, sampe ada yang kampanye segala, pake mobil bak terbuka full speaker, bawa massa pula! Duh ... masa lari pagi bisa macet juga!
Tapi tadi gak rame, kebanyakan yang lari-lari di sana orang-orang yang udah pada tua. kakek-kakek nenek-nenek gitu. Saya jadi lebih menikmati lari pagi saya. Apalagi kemarin malam abis hujan. Jadi pepohonan dan rerumputan di stadion ini masih basah. Hmmm .... rasanya menyenangkan. Minggu depan saya akan berlari lagi ...

I always loved running ... it was something you could do by yourself, and under your own power. You could go in any direction, fast or slow as you wanted, fighting the wind if you felt like it, seeking out new sights just on the strength of your feet and the courage of your lungs.
-Jesse Owens-